MENELADANI PENGORBANAN NABI IBRAHIM AS
By : (Prof. Dr. Zafrulkan)
“Ketika mereka berdua, Ibrahim dan Isma’il telah pasrah dan tatkala Ibrahim merebahkan Isma’il pada wajahnya untuk dikorbankan, Kami (Allah) berseru, “Wahai Ibrahim engkau telah membenarkan mimpimu!” Dan dia, Isma’il pun Kami tebus dengan seekor domba yang besar dan Kami jadikan hal itu teladan untuk orang-orang yang datang kemudian” (QS. Al-Shaffat: 103-105,107-108).
Cuplikan beberapa ayat di atas menggambarkan peristiwa kurban sebagai salah satu momen agung yang diabadikan oleh Al-Quran. Secara historis-sosiologis, peristiwa mulia tersebut di lakukan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il as untuk menjadi teladan bagi umat manusia, terutama oleh kaum Muslim. Sehingga dalam konteks Idul Adha, kita sebagai kaum Muslim yang mampu secara material sangat ditekankan (sunnah muakkad) untuk berkurban dengan memotong hewan, seperti sapi, domba, unta, dan lainnya. Kalau begitu, apa sesungguhnya makna kurban? Dan apa pesan moral yang bisa kita petik dari peristiwa kurban tersebut?
Istilah kurban, secara etimologis berasal dari bahasa Arab yaitu qoruba-yaqrubu-qurban, yang berarti dekat atau pendekatan, yaitu pendekatan kepada Allah. Maka melakukan kurban, sejatinya adalah melakukan segala kebajikan yang bisa mengantarkan kita semakin dekat dengan Tuhan sebagai tujuan hidup kita. Dari makna tersebut, setidaknya ada tiga pesan moral yang bisa kita bingkai dalam kurban untuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim as.
Pertama, peristiwa kurban sesungguhnya merupakan simbolisasi bahwa ketika melakukan kurban, tujuan intrinsiknya secara individual setiap kita harus berusaha membunuh sifat-sifat kebinatangan yang bersemayam dalam diri kita, seperti sifat buas, rakus, ambisi tak terkendali, menindas, sewenang-wenang, membabi buta, serta tidak mengenal hukum dan norma-norma apapun. Walaupun secara fisikal kita disunnahkan memotong hewan kurban, namun yang jauh lebih substantif adalah sikap batin kita yakni nilai takwa dalam jiwa kita.
Itulah alasannya mengapa Allah dengan tegas mengingatkan kita semua, “Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah hewan tersebut, tetapi yang akan sampai kepada Allah adalah ketakwaanmu kepada-Nya” (QS. Al-Hajj: 37). Jadi aksentuasinya di sini adalah nilai-nilai takwa yang bersemayam dalam hati dan jiwa kita. Karena itu juga Rasulullah Saw mensinyalir bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan harta bendamu, melainkan hanya melihat hatimu” (HR. Muslim). Dengan demikian, dengan berkurban, dengan membunuh sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita sebagai dimensi takwa secara internal, maka akan membuahkan kedekatan kepada Allah.
Kedua, melalui kisah Ibrahim dan Isma’il tersebut, kita mesti belajar untuk rela mengorbankan apapun yang kita miliki, hatta sesuatu yang paling kita cintai sekalipun demi menunaikan perintah Allah. Ketika berhadapan dengan ridha Allah, kita harus ikhlas untuk mengorbankan kesenangan-kesenangan istimewa kita. Dalam konteks Ibrahim, Isma’il sebagai anak lelaki merupakan simbol yang paling dicintai, namun Ibrahim tetap menunaikan panggilan Allah.
Meminjam bahasa Ali Syariati dalam karya monumentalnya Rahasia Haji, kita harus mengidentifikasi apa atau siapakah yang paling kita cintai; siapakah “Isma’il” kita? Apakah “Isma’il” kita itu berupa jabatan? Kehormatan atau profesi? Atau kekayaan dan kegemerlapan duniawi yang tengah kita miliki? Keluarga atau status sosial? Kemudaan, kecantikan, dan ketampanan? Atau popularitas dan ketenaran?
Kalau kita merasa sulit untuk mengetahui “Isma’il” kita, Ali Syariati menawarkan kita sebuah kompas spiritual yakni “Setiap apapun yang melemahkan imanmu, apapun yang mencegahmu untuk maju di jalan-jalan spiritual, apapun yang mengalihkanmu dari menerima tanggungjawab, apapun yang menyebabkanmu menjadi berpusat pada diri sendiri, apapun yang membuatmu tak mampu mendengar pesan moral dan mengakui kebenaran, apapun yang memaksamu untuk melarikan diri dari kearifan agama, apapun yang menyebabkanmu berdalih demi mencari kenyamanan hidup, dan apapun yang membuatmu tuli dan buta terhadap kebajikan, maka engkau berada pada posisi Ibrahim yang cintanya kepada Isma’il merupakan titik kelemahannya”. Disinilah ketika segala yang kita cintai bertentangan dengan ridha Allah, kita mesti melepaskan segalanya dengan pasrah. Seperti Ibrahim kita tertunduk membisu, patuh, dan hening di hadapan altar keagungan perintah Ilahi.
Ketiga, dengan berkurban, setiap kita sebenarnya dituntut pula untuk memiliki pandangan yang jauh ke depan, future oriented, yang menunjukkan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sementara dan melupakan kebahagiaan abadi. Berkurban artinya memandang jauh ke masa depan dan tidak boleh terkecoh oleh kesenangan sementara dan melupakan kebahagiaan abadi si seberang kematian. Secara praktis kita berkurban artinya kita tabah, sabar, dan ikhlas menanggung segala beban berat dalam hidup kita sekarang, sebab kita sadar dan yakin bahwa di balik segala keglamouran panggung duniawi ini kita akan memperoleh hasil dari segala perjuangan, jerih payah, dan pengorbanan kita.
Dengan kata lain, makna berkurban adalah bahwa kita sanggup menunda segala bentuk kesenangan kecil dan sesaat demi mencapai kebahagiaan yang lebih besar dan kekal. Dalam kata-kata Kahlil Gibran dalam The Broken Wings, pengorbanan merupakan the ability to sacrifice a great thing today in order to obtain a greater one tomorrow, kemampuan untuk mengorbankan sesuatu yang agung hari ini demi memperoleh sesuatu yang jauh lebih agung esok hari. Dan dalam kajian ilmu psikologi, para psikolog telah mengakui bahwa hakikat kesenangan adalah kesenangan yang tertunda, deferred enjoyment, bukan kesenangan seketika, instant enjoyment.
Karena itu, kapanpun kita berjumpa dengan hari raya Idul Adha, mari kita tumbuhkan semangat berkurban dengan meneladani semangat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Isma’il as dengan berusaha terus menerus untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan yang bertahta dalam diri kita, mendahulukan ridha Allah di atas segala kesenangan kita, dan melepaskan kesenangan-kesenangan semu yang bersifat jangka pendek demi kebahagiaan jangka panjang, baik dalam spektrum duniawi ini maupun dalam dimensi kehidupan ukhrowi. Wallahu a’lam bish showab
SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IDUL ADHA.
SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IDUL ADHA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar